Saturday, March 8, 2008

Demokrasi Adalah Kami

Demokrasi yang kamu maksud
Adalah kemenangan segelintir perut
Pesta pora keluarga dan kerabatmu
Serta cekikikan licik dibalik kegelapan

Demokrasi yang kamu inginkan
Adalah kekuasaan ditanganmu
Penghambaan pada uang yang kau hutang
Dan ketundukanmu pada bangsa kaya

Jika itu yang kamu maksud
Ketika itu yang kamu inginkan
Maka bukalah telingamu baik-baik
Kami ingin mengatakan sesuatu

Demokrasi yang kami maksud
Adalah kemenangan semua orang
Ketika semua perut bisa makan
Dan tak seorangpun yang mengambil lebih

Demokrasi yang kami inginkan
Adalah kebebasan di tanah leluhur kami
Ketika anak cucu kami bisa hidup tanpa ketakutan
Dan senyuman semua orang bersama matahari pagi

Itu demokrasi yang kamu maksud
Itu yang kami inginkan
Demokrasimu bukan untuk kami
Karena demokrasi adalah kami.... yang beratus-ratus juta

Giessen, 8 Maret 2007

Sunday, March 2, 2008

Angin

Angin datang bertamu malam tadi
Diketuknya tirai besi setiap pintu
Bunyinya berderak mengusik dingin
Angin datang mengabarkan perubahan

Bersamanya
Berjatuhan ranting tua musim dingin
Terhempas dalam sujud mencium bumi
Mereka telah kembali

Pucuk muda berpegangan pada harap
Melambai mengucapkan selamat tinggal
Kamilah kini yang bertahta
Angin telah menitahkan waktu

Pagi hari, di depan lantai teras yang beku
Kuburan ranting tua teronggok berwibawa
Angin telah reda menunaikan tugas
Membawa musim semi menepati janji... lebih awal

Gießen, 2 Februari 2008

Monday, January 28, 2008

Kalaupun Surga Ada

Kalaupun surga ada
Tentu kurang asik jika hanya dihuni orang Islam
Kalaupun surga ada
Tentu membosankan jika hanya ada umat Kristen

Kalau saja surga ada
Pastinya akan kurang indah jika penghuninya hanya kaum Budha
Kalau saja Surga ada
Bagaimanakah aku membahagiakan diri jika hanya Hindu didalamnya

Kalau saja surga akan ada
Aku tak tau bagaimana Tuhan menyebutnya indah
Jika surga hanya diperuntukkan untuk satu kaum
Jika demikian adanya, tentu surga sebaiknya tak ada

Surga untuk semua
Sebagaimana dunia untuk semua
Karena hanya itulah
Yang menyerupai keadilan dan keindahan

Kalau saja Tuhan ada
Tentu DIA pernah tiada

Giessen, 29 Januari 2008

Saturday, January 12, 2008

Mati

Tentu ada yang indah dari kematian
Tak seorang pun kembali dari alam mati
Atau mungkin juga
Karena kematian selalu menertawakan kehidupan

Tentu ada yang rahasia
Tak seorangpun bicara
Kecuali pesan singkatmu tadi malam
Segala yang terlahir, telah dikekalkan dengan kematian

Giessen, 13 Januari 2008

Dari Balik Ketiadaan

Dulu adalah tiada
Kini adalah jejak yang merekam diri
Dunia seakan di remote dari keremangan
Perang, kemiskinan, pembantaian seakan wayang yang didalangi

Kepala manusia berbau mesiu
Agama berubah wujud mengerikan
Perbedaan sudah menjadi nabi
Semua di kendalikan dari ketiadaan

Ketiadaan itu begitu berkuasa
Ketiadaan itu begitu mutlak

Giessen, 14 Januari 2007

Lieblich Wein

Manis... Kuceburkan diriku bersamamu
Dalam sebuah kolam yang bertepikan entah
Didasarnya nampak bintang menyala redup
Nampak gelisah dan ragu-ragu

Manis... jangan basahi rambutmu
Karena air selalu berteman dengan bencana
Bersihkan dirimu dengan api
Mungkin kelak langit akan menitahkan lain

Aromamu begitu kuat menembus kepala
Dalam redup musim dingin, kureguk kedamaianku
Hangat, detak jantung, berburu dalam darahku
Dalam mabuk kutemukan Kau dipojok hati

Franfkfurt, 12 Januari 2008

Diujung Nafas

Diujung nafas membonceng keabadian dan kematian

Ujung nafas... Hidup
Ujung nafas... Terengah
Ujung nafas... Tersedak
Ujung nafas... Orgasme
Ujung nafas... Kelahiran
Ujung nafas... Sekarat
Ujung nafas... Mati

Diujung nafas kita mengenali kehidupan


Frankfurt, 12 Januari 2008

Tuesday, December 25, 2007

Mata Yang Terbenam

Bersama matamu yang terbenam
Kau bawa secarik kertas berisikan wangsit
Pesan singkat dari Semar
Pertanda gelisah Manikmaya sang Batara Guru

Bersama matamu yang terbenam
Kau hadirkan petang di nirwana
Senjamu begitu mengagumkan
Namun tak jua kutemukan perbatasannya dengan malam

Aku ingin bersama matamu yang terbenam
Mungkin dapat kulihat rahasia dewata bersamamu
Namun pusaka Trisara begitu cepat menyergap
Wahyu Tejamaya luput dari genggamanku

Oh mata yang selalu terbenam
Lihatlah betapa rindu telah kau hadirkan menjadi kutukan
Aku menyesal telah memandangmu sore sepulang kerja
Seperti sesal Sang Hyang Wenang berbesankan Rekata sang raja kepiting

Giessen, 25 Desember 2007

Es Muss Sein

Pucuk-pucuk pohon merapat lembut
Daunnya telah gugur semusim yang lalu
Dahannya yang kini telanjang
Menanti janji dedaunan untuk kembali di musim semi

Jejak-jejak embun yang mungil
Membeku diujung ranting
Seakan hendak menegaskan kembalimu dari jauh
Yang tiba melecutkan kasih diujung pagi

Telah kutolak semua kata pertama
Namun cinta memang isyarat tak terbantahkan
Ketika datang dan pergi bagaikan kastil yang udzur
Digerbangmu, kutemukan sebuah cincin yang dicuri sang Nuri

Bergemirisik rumput-rumput yang terbangun
Butiran salju tak datang tepat waktu
Lonceng gereja berisik bersahutan
Malam tiba lebih awal, bersama dingin yang membeku

Langit retak dan menangis
Pohonan lebur menjadi bayang-bayang
Gelap, dingin, rumput dan salju
Hanya bayangan yang tak eksis, hanya Aku dan Kau

Muss Es Sein? Haruskan begitu?
Bethoven memekikkan kwartet terakhirnya
Ya sudah seharusnya begitu!
Es Muss Sein, Hanya Aku! Mungkin juga Kau

Giessen, 25 Desember 2007

Saturday, November 10, 2007

Eksistensi

Akulah yang bernama sedih
Yang kau bariskan pada airmata
Tersembunyi, tak mewujud
Sendiri bernama eksistensi

Akulah yang bernama dingin
Yang kau genggam bersama salju
Bersembunyi, tak terbilang
Lenyap bersama kebekuan air

Akulah yang bernama gelap
Yang kau lekatkan pada diri malam
Tersamar, namun nyata
Bersetubuh dengan manifestasi

Akulah yang bernama cinta
Yang kau tatap pada mata kekasih
Terabaikan, namun menggetarkan
Esa bersama ciuman pertama

Akulah dirimu
Yang membisikkan ayat-ayat tak beragama
Hadir disetiap helaan nafas yang terabaikan
Tak terlahirkan namun tak berujung

Akulah yang bernama Tuhan
Yang kau saksikan pada detik-detik dalam hari
Menjelma diri sepanjang musim
Tunggal bersama ruang tak berbatas

Aku, kau
Hanya kita yang tahu

Giessen, 8 Nopember 2007